BISNIS: Mengenal Pola Pikir “Think” and “Done” di Bidang Bisnis

SEWAKTU saya duduk santai di depan sebuah ruko, di sebelah ruko ada sekelompok wiraswastawan muda dan tampaknya wiraswastawan pemula berdisku cukup hangat. Bahkan mengarah ke perdebatan.

Kelompok PERTAMA mengatakan, kalau wiraswasta, teori (think) tidak perlu. Langsung saja praktek (done). Lalu mengutip cerita pengalaman Bob Sadino yang sukses wiraswasta karena menerapkan pola pikir “think after done”. Kerjakan dulu, kemudian selesaikan masalahnya.

Contoh:

Bob Sadino tak banyak teori. Langsung menjual telor dan ayam dan banyak pelanggan dan sukses. Itu awal Bob Sadino memulai karirnya sebagai wiraswastawan.

Namun kelompok KEDUA mengatakan, cara terbaik wiraswasta yaitu “think while done”. Artinya, langsung praktek sambil langsung menyelesaiakan masalah yang terjadi saat itu juga.

Contoh:

Seorang pebisnis kafe bernama Dharmawan punya ide mendirikan kafe. Langsung saja membuka kafe. Tiap ada komplain atau usulan dari para tamunya, langsung disempurnakan saat itu juga. Misalnya, makanan “A” terlalu asin, maka saat itu juga dikoreksi. Dalam satu bulan maka tidak banyak komplain yang diterimanya.

Sedangkan kelompok KETIGA punya pendapat, “think before done”. Artinya, pikirkan dulu secara matang, kemudian lakukan apa yang telah kita rencanakan sambil menyelesaikan masalah.

Contoh:

Seorang pengusaha bernama Dewi Purnamasari akan membangun apartemen 15 lantai.Maka dia berpikir dulu. Membuat rencana tentang lokasi, bentuk apartemen, jumlah lantai dan rencana lainnya. Setelah rencananya secara mendetail selesai dibuat, maka dibangunlah apartemen 15 lantai itu.

Kesimpulan I:

Ada tiga macam pola pikir

1.Think after done

2.Think while done

3.Think before done

1.Ulasan pola pikir THINK AFTER DONE dalam membangun apartemen

Jelas tidak mungkin Anda asal membangun dan setelah selesai baru dipikirkan jumlah lantainya, kamarnya, lokasinya, dll.

2. Ulasan pola pikir THINK WHILE DONE dalam membangun apartemen

Tidak mungkin Anda membangun apartemen berdasarkan rencana sepotomh-sepotomg (think) dan melaksanakannya sepotong-sepotong (done).

3.Ulasan pola pikir THINK BEFORE DONE dalam membangun apartemen

Tidak mungkin Anda membangun apartemen tanpa membuat perencanaan yang matang. Oleh karena itu proses yang benar yaitu “think” (membuat rencana) kemudian “done” (melaksanakannya).

Kesimpulan II:

1.THINK AFTER DONE untuk bisnis yang kecil

2.THINK WHILE DONE untuk bisnis yang menengah

3.THINK BEFORE DONE untuk bisnis yang kompleks

Catatan tentang Bob Sadino:

1.Ketika awal karir, jenis bisnis Bob Sadino masih kecil (Cuma menjual telor dan ayam), banyak potensi konsumen dan sedikit pesaing di sekitar rumahnya (Kemang, Kebayoran Baru).Cara berpikirnya: THINK AFTER DONE

2.Ketika bisnisnya berkembang dan mulai membangun supermarket (Kem Chicks), maka cara berpikirnya berubah. Yaitu, THINK WHILE DONE

3.Ketika akan membangun apartemen (The Mansion at Kemang atau TMK), maka pola pikirnya berkembang lagi menjadi THINK BEFORE DONE.Bahkan, Bob Sadino menggandeng pengembang properti Grup Agung Sedayu (GAS) yang sudah berpengalaman

Menurut Fifi Lesmana, Manajer Pemasaran TMK, harga jual satu unit apartemen berukuran 90-an m2 dengan satu kamar tidur Rp 1,7 miliaran. Ukuran 150-170 m2 dengan dua kamar tidur sekitar Rp 3 miliar. Dan, ukuran 272-an m2 dengan tiga kamar tidur Rp 4 miliaran.

Kesimpulan III:

Pola pikir mana yang akan dipilih tergantung pada:

-kompleksitas bisnis,

-potensi konsumen dan

-prospek daripada sebuah bisnis.

Semakin komplek sebuah bisnis, maka faktor THINK semakin besar. Sebaliknya semakin kecil sebuah bisnis, maka faktor DONE semakin besar.

Jadi perdebatan mana cara berpikir yang terbaik merupakan perdebatan yang tidak ada manfaatnya sebab ketiga cara berpikir itu merupakan cara berpikir terbaik sesuai dengan tingkat kompleksitas, potensi konsumen dan prospek.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Iklan

Tentang demono2010

Alumni LPK De Mono Jakarta Angkatan XI
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s